Aktualisasi Nilai - Nilai Puasa dalam Kehidupan Mahasiswa

October 5, 2007 by redaksi 

Ramadhan telah tiba. Bulan  diwajibkan atas umat Islam untuk menjalankan ibadah puasa.

Bulan yang dibuka seluas-luasnya pintu keberkahan dari Allah SWT, dan bahkan ada satu malam yang nilainya jauh lebih baik daripada seribu bulan. Sebagai salah satu bentuk ritual  ibadah yang disyari‘atkan oleh Islam, puasa  sebenarnya dilakukan pula oleh umat-umat lain  sebelum Islam. Sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT di dalam QS Al-Baqarah ayat 183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan  atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas  orang-orang  sebelum kamu, agar kamu bertakwa.?Ayat ini mempertegas bahwa puasa sebenarnya dilakukan oleh orang-orang sebelum Islam. Atau dengan kata lain, puasa dilakukan oleh orang-orang selain Islam. Sejarah mencatat bahwa perjalanan umat manusia di dunia ini ternyata tidak pernah sepi dari puasa.  Hal ini berarti bahwa sejarah puasa sama tuanya dengan sejarah umat manusia itu sendiri. Sebelum Islam lahir, bangsa-bangsa non muslim, seperti bangsa Mesir kuno, China kuno, Romawi maupun Yunani  juga melaksanakan puasa, meski dengan  tata cara yang berbeda-beda, Bahkan beberapa jenis binatang juga melaksanakan puasa.

Di dalam memahami ibadah puasa, selain bahwa puasa merupakan perintah agama yang wajib ditaati  oleh segenap umat muslim, maka  harus ada  interpretasi  lain yang  dapat memberikan pencerahan  untuk mencari relevansinya bagi kehidupan manusia. Karena pada dasarnya perintah-perintah  agama  itu tidak absurd, namun memiliki nilai-nilai aktual yang dapat dirasakan dan dijadikan keteladanan dalam diri manusia.Puasa berari tidak makan dan tidak minum sejak terbit fajar hingga matahari tenggelam. Namun sejatinya puasa itu tidak hanya berhenti pada persoalan tidak makan dan tidak minum saja.  Melainkan terdapat dimensi lain yang lebih hakiki dan merupakan tingkat tertinggi dari  ritual  puasa. Dalam konteks mahasiswa, puasa berarti pencerahan terhadap aktifitas akademis serta nilai-nilai persaudaraan, kemasyarakat dan cinta tanah air.

Lalai dan Tidak Sadar

Banyak diantara kita yang menjalani ibadah puasa dengan hasil yang biasa saja dan bahkan tidak mendapatkan pahala sedikitpun alias sia-sia. Itu karena tanpa disadari oleh kita banyak melakukan kesalahan. Diantara kesalahan tersebut adalah merasa sedih, malas, loyo dan tak bergairah menyambut bulan Suci Ramadhan. Padahal puasa mendidik kita untuk mampu lebih survive (bertahan) dan lebih memiliki daya tahan yang kuat. Sejarah mencatat, kemenangan Raulullah dan para sahabat dalam peperangan terjadi di bulan Ramadhan. Berpuasa tapi enggan melaksanakan shalat fardhu lima waktu merupakan kesalahan lainnya. Mengira bahwa Ramadhan cukup dijalani dengan puasa semata, tanpa ibadah shalat fardhu. Padahal shalat dan puasa termasuk satu rangkaian rukun Islam, sehingga bila salah satunya dilalaikan, maka menjadi tidak sempurnalah ibadah yang dijalankan.Juga, kesalahan lain di bulan Ramadhan adalah berlebih-lebihan dan boros dalam menyiapkan dan menyantap hidangan berbuka dan sahur. Kebiasaan ini tak jarang berulang kembali setiap menjalankan ibadah puasa. Istilah ‘balas dendam’ saat berbuka puasa adalah istilah yang cocok untuk menggambarkan bagaimana nafsu yang telah dikekang sejak pagi hingga sore dilampiaskan saat berbuka puasa.

Ada juga kesalahan yang sepele yang sadar maupun tidak dilakukan oleh kita. Seperti menyibukkan diri pada saat makan sahur sehingga melalaikan shalat Subuh dan sibuk berbuka sehingga melalaikan shalat Maghrib, menghabiskan waktu siang hari dengan tidur berlebihan, bersemangat dan sibuk beribadah sunnah selama Ramadhan tetapi setelah Ramadhan berlalu ibadah-ibadah itu kita lalaikan, membuka aurat bagi wanita muslim yang sudah diwajibkan untuk menutupnya, semakin jarang bersedekah, atau lebih sibuk memikirkan persiapan hari Raya daripada amalan puasa.Yang perlu kita perhatikan juga adalah makanan untuk berbuka puasa dan sahur, mungkin untuk mahasiswa yang kost perlu diperhatikan makanan yang disantap kalau terlalu sering mengkonsumsi mie instant saat sahur tentu akan berdampak kurang baik untuk kesehatan. Jadi, untuk mengoptimalkan amal ibadah kita di bulan penuh rahmat ini jangan lupa untuk menjaga kondisi tubuh kita agar tetap fit sampai Ramadhan berakhir.
 
Hikmah dan Nilai Puasa
Bulan suci  Ramadhan memiliki banyak hikmah dan nilai  yang terkandung di dalamnya, diantaranya : 
1.Syahrut-Tarbiyah (Bulan Pendidikan)
Bulan ini kita dididik langsung oleh Allah SWT, seperti makan pada waktunya sehingga kesehatan kita terjaga. Kapan waktu makan, kapan waktu bekerja, kapan waktu istirahat dan kapan waktu ibadah. Jadi secara langsung Allah SWT membina kita untuk hidup disiplin.
2.Syahrul Jihad
Pada masa Rasulullah,justru peperangan banyak terjadi pada bulan Ramadhan dan itu semua dimenangkan kaum muslimin. Yang paling penting kita rasakan sekarang adalah kita berjihad melawan hawa nafsu sendiri, dengan Ramadhan ini Allah SWT memfasilitasi kita untuk berjuang mengekang hawa nafsu kita yang terkadang sulit bagi kita untuk mengendalikanya di luar bulan Ramadhan. Dengan demikian kita akan bersungguh-sungguh menjalankan aktifitas kita.  
3.Syahrul Qur’an
 Allah SWT berfirman : “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan  Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda …“ (QS. Al Baqarah : 185).
Al-Qur’an pertama kali diturunkan di bulan Ramadhan dan pada bulan ini sebaiknya kita banyak membaca dan megkaji kandungan Al-Qur’an sehingga kita paham dan mengerti perintah Allah yang terkandung di dalamnya. 
4.Syahrul Ukhuwah
Pada bulan ini kita merasakan sekali ukhuwah diantara kaum muslimin terjalin sangat erat dengan selalu berinteraksi di masjid/mushala untuk melakukan shalat berjama’ah. Dan inilah salah satu moment yang tepat bagi kita untuk mengasah kepekaan sosial kita terhadap saudara – saudara kita yang kurang mampu. Oleh karena itu ada zakat yang Allah SWt khususkan untuk ditunaikan di bulan Ramadhan yaitu Zakat Fitrah.
5.Syahrul Ibadah
Bulan Ramadhan disebut juga dengan Bulan Ibadah karena pada bulan ini kita banyak sekali melakukan ibadah-ibadah sunnah disamping ibadah wajib seperti shalat Dhuha, Rawatib dan Tarawih ataupun Qiyamullail.  
 
 Beruntunglah bagi mereka yang bisa melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Namun, ada hal-hal yang disunahkan Rasul SAW. untuk mengisi bulan yang mulia ini, diantaranya :
 
1.  Membaca Al-Qur’an.
Bulan Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an sesuai dengan sunah Nabi SAW.  Ibnu Abbas ra. berkata : “Nabi (Muhammad SAW.) adalah orang yang paling dermawan diantara manusia. Kedermawanannya meningkat saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi membacakan Al-Qur’an dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawanan Nabi melebihi angin yang berhembus.? Hadist tersebut menganjurkan kepada setiap muslim agar bertadarus Al-Qur’an dan mengadakan ijtima’ atau berkumpul dalam majlis Al-Qur’an.
2.   Menahan hawa nafsu dan kesenangan duniawi.
 yaitu dengan mengurangi makan ketika berbuka serta tidak berlebih-lebihan. Dalam sebuah hadist dikatakan “Tidak ada perkara yang lebih buruk daripada memenuhi isi perut dengan makanan secara berlebihan.? Ruh puasa terletak pada memperlemah syahwat, mengurangi keinginan dan mengekang nafsu.
3.   Qiyamullail (Shalat Malam).
Qiyamullail atau shalat malam disunahkan oleh Rasul untuk kita kerjakan di bulan Ramadhan. Shalat Tarawih yang hanya sekali dalam setahun ini, termasuk Qiyamullail.
4.   Berlomba-lomba dalam bersedekah.
Hendaknya berusaha untuk selalu memberikan ifthor(berbuka) bagi mereka yang berpuasa walaupun hanya seteguk air ataupun sebutir kurma sebagaimana sabda Rasulullah :
5.  I’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
I’tikaf ini merupakan penyempurna ibadah puasa. I’tikaf artinya mengkonsentrasikan diri menghadap Allah, mendekatkan diri kepada-Nya, dan menyibukkan diri dengan beribadah kepada-Nya. Hingga kecintaannya semata hanya kepada Allah, mengalahkan kecintaannya kepada selain Allah. Inilah tujuan I’tikaf di hari-hari terakhir bulan Ramadhan, hari yang paling utama selama bulan Ramadhan. Sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan merupakan keutamaan yang dipilih oleh Allah SWT.

Penulis  Sekretaris Umum UKM Fajrul Islam (Rohis) dan Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro.
Fakultas Teknologi Industri  Universitas Gunadarma

UG88

Comments are closed.