Mohammad Okki H, ST., MT, “Selain Mengajar Dosen pun Harus Berupaya Membangun Semangat Belajar Mahasiswa”

April 5, 2009 by redaksi 

Ia merupakan salah satu dosen UG  yang gencar memperkenalkan SAP (System Applications and Product), suatu software aplikasi yang berguna untuk mengimplementasikan konsep ERP (Enterprise Resources Planning) yang merupakan sistem terpopuler di dunia. “Di pasar kerja, permintaan akan keahlian SAP sangat tinggi,” kata Mohammad Okki H, ST., MT, Kepala Lembaga Penelitian Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Gunadarma

Di Pasar Teknologi Informasi dunia, kata Mohammad Okki H, ST., MT, ada beberapa produk paling populer. Pertama, operation system yang dikuasai oleh Window dengan Microsoftnya. Kedua, database yang paling terkenal adalah Orcle,  dan ketiga pasar ERP (Enterprise Resourches Planning) yang merupakan konsep sistem informasi yang mengintegrasikan beberapa bagian yang saling terkait di sebuah perusahaan. Dan software aplikasi untuk mengimplementasikan  ERP yang paling dominan adalah SAP. Maka wajarlah bila Universitas Gunadarma sebagai kampus berbasis Teknologi Informasi mengembangkan SAP. Lembaga Penelitian Universitas Gunadarma (LPUG) sendiri sejak Maret tahun lalu sudah membuka program SAP Trainning, sertifikasi dan ujian untuk mendapatkan sertifikat internasional SAP dari SAP Indonesia.

Kursus 80 jam
Berbeda dengan kursus lainnya yang waktunya relatif lebih pendek, sekitar 35 jam, untuk SAP diberikan selama 80 jam. Sehingga seorang peserta harus mengikuti selama 3 minggu dengan waktu setiap hari 4 jam. Dan Mohammad Okki, ST., MT merupakan salah satu instruktur dalam kursus tersebut.Menurut Okki, lamanya waktu yang diberikan karena bahasannya memang lebih rumit. “Dan memang belajar SAP di seluruh dunia modulnya sudah ditentukan seperti itu. Karena itu waktunya memang lama,” katanya.Sayangnya meski permintaan dari dunia kerja akan lulusan yang menguasai SAP cukup tinggi, di kalangan mahasiswa sendiri SAP belum begitu popular. “Kursus ini sebetulnya lintas disiplin ilmu dan pesertanya dibatasi maksimal 20 orang. Namun selama ini memang peminatnya belum sebanyak kursus lain,” katanya.

Okki menduga kekurangpopuleran kursus juga karena kendala biaya kursus. “Selama ini kursus yang ada biayanya sekitar 400 ribu rupiah sementara untuk SAP setelah diskon harus membayar biaya sekitar 2,1 juta rupiah,” katanya. “Padahal, seandainya saja mahasiswa tahu bagaimana manfaatnya dan tingginya permintaan keahlian SAP di dunia kerja, harga itu menjadi relatif.  Mahalnya kursus dikarenakan dari sananya memang sudah mahal.” Ia lalu membandingkan kursus yang diselenggarakan di luar kampus seperti yang diselenggarakan SAP Indonesia.  “Biayanya bisa mencapai 5000 dolar AS dan sertifikasi 700 dollar AS. Memang ini untuk para konsultan. Namun modul yang diberikan, ya itu itu juga.  Hanya mungkin instrukturnya yang berbeda,”  jelasnya.

Idealnya, Okki membayangkan kalau SAP bisa berkembang di kalangan mahasiswa UG, ”Yang ikut pelatihan banyak sehingga penelitian di bidang tersebut juga bertambah serta punya banyak grup diskusi mengenai SAP,” harapnya.Karena itulah memperkenalkan bidang tersebut ke kalangan mahasiswa menjadi program yang penting. “Saya sering meminta mahasiswa untuk memeriksa lowongan kerja yang membutuhkan  orang yang memiliki pengetahuan SAP,” katanya. “Hal ini  adalah salah satu cara untuk menumbuhkan minat mahasiswa untuk belajar SAP karena menyadari betapa tingginya kebutuhan pasar akan orang yang menguasai SAP. Setelah wawasannya dibuka, otomatis kesadarannya akan tergerak untuk mau belajar.”

Membangun semangat belajar
Mohammad Okki bergabung dengan Universitas Gunadarma sejak tahun 2005. Mulanya ia ditempatkan di LepMa, setelah itu ia bertugas di Lembaga Penelitian FTI Universitas Gunadarma. Menurut Okki, iklim penelitian di setiap fakultas sebenarnya hampir sama. “Hanya saja, ada fakultas yang memang jumlah mahasiswa dan pengajarnya lebih sedikit dibanding dengan fakultas lainnya, ya otomatis hasil penelitiannya juga tak banyak,” jelasnya.Alumnus Universitas Brawijaya Jurusan Teknik Sipil tahun 2001 dan Strata Dua di Institut Teknologi Bandung Jurusan Teknik Industri tahun 2003 ini sempat bekerja di perusahaan kontraktor dan konsultan. “Menurut saya sih menjadi dosen tak ubahnya profesi lain yang pernah saya jalani.  Karena ketika di kantor konsultan pun pekerjaan saya memberi pelatihan,” katanya.Sebagai dosen, ia punya pengalaman tersendiri. Ia pernah membimbing 2 mahasiswa yang membuat tugas akhir berkaitan dengan SAP. “Saat itu belum ada kursus SAP di Gunadarma,” katanya. Okki menyadari SAP terbilang rumit. Si mahasiswa sudah diberi masukan mengenai kendala yang akan dihadapi. “Tapi ia tetap ngotot akan membuat TA mengenai SAP karena ia melihat, di pasar kerja permintaan akan keahlian SAP sangat tinggi,” katanya. Mahasiswa itu pun mengatakan hal ini menjadi tantangan yang harus dihadapi. Untuk melengkapi penelitiannya, Okki bahkan menyuruhnya menemui seorang pengajar di Bandung, ”Dan ia mau melakukan itu,” katanya. Akhirnya kedua mahasiswa yang berbeda angkatan itu memang bisa menyelesaikan tugas akhirnya. Setelah lulus, benar saja kedua orang itu dalam usia muda sudah punya posisi penting di perusahaan ternama yang berbeda. Salah satunya bahkan baru beberapa bulan bekerja, sempat dikirim 4 bulan  ke Vietnam untuk melakukan kerjasama proyek bersama tenaga kerja dari negara lain.

“Sejak awal saya  yakin, melihat kemauan dan kerja keras, mereka tak akan sulit mendapat pekerjaan bagus nantinya,” katanya. Tentu sebagai dosen ia cukup bangga dengan keduanya. Menurut Okki, tugas dosen selain mengajar, adalah juga harus berupaya membangun semangat belajar yang tinggi bagi para mahasiswanya.Okki sendiri mempelajari SAP sudah dari tahun 2002 lalu. ”Kejadiannya secara kebetulan saja,” ceritanya. Saat itu ia hendak membuat tesis dan mendatangi sebuah perusahaan untuk mencari bahan penelitian. Perusahaan tersebut menyuruhnya mengambil penelitian SAP. Sejak itu Okki secara serius mendalami SAP dan aktif dalam komunitas SAP di Indonesia yang anggotanya terdiri dari berbagai profesi. Mulai konsultan, peneliti, mahasiswa, dosen, praktisi di bidang industri dan sebagainya.Bagi Okki Universitas Gunadarma sangat ideal untuk mengembangkan SAP karena terdiri dari berbagai fakultas. “SAP yang memang lintas disiplin ilmu sehingga dengan fakultas berbeda bisa saling berbagi sehingga yang didapat bisa lebih banyak,” jelasnya. “SAP yang seperti perpustakaan berjalan ini merupakan cara praktis terbaik dari berbagai disiplin ilmu sesuai yang dikehendaki pengguna.”
UG124

sosok

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.