Waspada Berita Hoax

Waspada Berita Hoax

209
0
SHARE
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Kompas.com memuat sejumlah penggiat medsos dan anggota masyarakat Indonesia anti hoax. Hal ini menanggapi maraknya informasi di media sosial yang banyak mengandung kebohongan. Masyarakat juga harus bisa memahami media sosial secara positif dan tidak menyebarkan berita palsu. Dengan dilakukan deklarasi tersebut diharapkan banyak yang bergerak untuk bergabung dan berinisiatif memerangi hoax di masa depan.

Setiap hari entah berapa ribu pengguna medsos disuguhi berita hoax. Ada yang berbau politik, ekonomi, sosial, agama dan sebagainya. Berita yang disajikan sedemikian rupa meyakinkan sehingga pembaca akan percaya. Misalnya saja tentang perekrutan karyawan baru untuk sejumlah perusahaan BUMN dan swasta. Ketika lamaran sudah dikirim ternyata pihak yang  bersangkutan tak pernah mengeluarkan pengumuman seperti itu.

Ada juga informasi kesehatan yang ditulis secara meyakinkan oleh seorang guru besar yang dicatut di bidang Ilmu Statistika. Kementrian Komunikasi dan Informasi telah melayangkan surat pemberitahuan kepada penyedia jasa internet atau Internet Service Provider (ISP) untuk memblokir 11 situs yang dinilai memuat konten Suku, Agama, Ras dan Antar golongan (SARA).

Menurut Plt Humas Kementrian Noor Irza, penutupan situs prinsipnya tidak sementara dan bisa permanen. Tapi pengelola konten dapat melakukan check and recheck atas kontennya. Pengelola konten dibuka kembali oleh Kemkominfo.

Namun begitu, ternyata banyak juga masyarakat yang menilai penutupan sejumlah konten itu bisa berlaku bagi situs yang kritis kepada pemerintah. Dan ini bisa mengancam kebebasan berpendapat.

Berita hoax memang sudah keterlaluan. Seperti pemberitaan kasus kriminal yang dilakukan seorang murid SMP yang ternyata ada sanggahan dari phak sekolah kalau sekolah  tersebut tidak pernah punya murid dengan nama itu. Begitu juga dengan pemberitaan mengenai penculikan, penipuan yang membuat masyarakat jadi merasa was-was dan tidak aman. Sulit memang melakukan mana berita hoax dan bukan. Lalu apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi maraknya berita hoax ini ?

Perlu Sosialisasi

Pemberitaan palsu (hoax) dewasa ini memang meresahkan. Informasi dan konten yang tidak sesuai dengan fakta sangat banyak tersebar di media internet. Terlebih lagi informasi tersebut dikaitkan dengan isu dan situasi yang sedang hangat saat ini, seperti politik.

Saya sendiri berusaha untuk memilah berita yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan kebenaran informasinya. Saya jadi berpikir tentang ide yang kiranya dapat bermanfaat untuk mengetahui hoax ini. Mungkin pemerintah Indonesia bisa memasang label dari lembaga pemerintahan yang dapat menyatakan bahwa informasi berupa tulisan atau gambar yang disampaikan media tersebut benar. Hal ini agar masyarakat tidak terjebak oleh topik yang menarik atau headline tertentu serta dapat mempelajari sumber dan referensinya. Selain itu perlu adanya sosialisasi yang memberikan pengetahuan terhadap masyarakat dalam menyerap informasi dan internet.

Dengan semakin banyaknya berita Hoax, masyarakat, khususnya di Indonesia saat ini mulai sadar untuk tergerak melawan berita hoax. Tentu hal ini berarti tindakan positif agar masyarakat dapat mengetahui informasi yang diterima dan menyikapinya lebih bijak.

Pemblokiran tidak menghambat kebebasan masyarakat dalam berpendapat. Pemblokiran situs yang melanggar regulasi atau legislasi harus disikapi dengan tegas. Terlebih situs yang melanggar aturan dan mengandung konten negatif. Hal ini dapat berdampak kepada masyarakat jika dibiarkan. Masyarakat banyak menyerap informasi melalui internet dan tidak sedikit anak-anak merasakan dampaknya. Pemerintah sudah cukup cepat dalam menyikapi situs yang terindikasi melanggar hukum ataupun kode etik.

Masyarakat tentunya ingin merasa nyaman dan aman saat mencari informasi atau bertukar informasi. Internet merupakan bukti semakin majunya pemanfaatan. Teknologi informasi saat ini karena masyarakat pun dapat mengikuti berita terbaru melalui internet. Tidak sedikit perusahaan media yang menyampaikan informasinya melalui internet. Adanya internet kepercayaan saya dalam memperoleh informasi melalui media mainstram.

Konsumsi Berita Hoax Terlalu Tinggi

Seringkali pemberitaan di media tidak berimbang antara pemberitaan positif dan negatif. Kondisi ini menjadi alasan warga negara kita lebih “doyan” dengan berita negatif. Coba saja perhatikan, berapa banyak pemberitaan terkait kriminalitas dibanding pemberitaan yang mendidik masyarakat seperti prestasi pelajar atau mahasiswa. Hal inilah yang kemudian jadi alasan untuk membuat berita palsu atau hoax yang sarat dengan isu negatif.

Rumusnya, penawaran terus dilakukan karena permintaan yang  terus meningkat. Konsumsi terhadap berita hoax oleh masyarakat kita terlalu tinggi, ini yang menyebabkan produksi berita hoax terus terjadi. Mental warga negara kita bukan pembelajar. Bagi pelaku yang menyebarkan hoax tidak jauh dari alasan material untuk mendapatkan rupiah atau bahkan orderan dari para pemangku kepentingan.

Gerakan masyarakat anti hoax tujuannya baik untuk memberantas berita hoax. Belum tahu inisiator pembentukan gerakan tersebut adakah campur tangan pemerintah atau murni dari masyarakat. Namun yang paling penting bukanlah pemberantasan secara teknis, namun bagaimana merubah mental warganegara menjadi mental pembelajar. Upaya pemerintah memblokir  situs web tidak jadi masalah kalau niatnya murni menjaga ketertiban masyarakat. Jadi jangan sampai berkehendak untuk menjadi rezim anti kritik dengan menginterverensi kelompok masyarakat tertantu.

Pemblokiran yang 90”- situs porno sisanya situs perjudian, penipuan, radikalisme dan lain-lain. Untuk itu saya setuju. Namun begitu, ada kontra dalam diri saya terkait kriteria situs radikal yang oleh pemerintah dimaksud adalah situs Islamis, padahal hanya berkontenkan dakwah Islam. Pemerintah perlu meninjau kembali terkait penentuan situs yang dianggap radikal atau tidak.

Media mainstram terutama televisi sudah menjadi senjata politik, terkait kepentingan nasional bahkan antarnegara di dunia. Jadi wajar saja sebagian mmasyarakat mulai tidak percaya dan berkepentingan untuk memanfaatkan media baru internet dalam menapatkan bahkan memberikan informasi pada publik.

UU ITE tidak dapat menjadi alasan sebagai pelarangan terhadap penyampaian informasi kalau berita tersebut hoax yang merugikan individu atau pun masyarakat tertentu. Tanpa adanya UU ITE pun sudah selayaknya pembuat berita hiax ditindak tegas, misalnya dengan alasan pencemaran nama baik.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

NO COMMENTS