Santoso Permadi, SE – Pengalaman Berorganisasi Sangat Penting Dalam Membina Karier

Santoso Permadi, SE – Pengalaman Berorganisasi Sangat Penting Dalam Membina Karier

127
0
SHARE
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Sudah hampir 2 tahun Santoso Permadi, SE bekerja di Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI), menjadi Manager Development Program. Ia merasa bersyukur bisa bergabung di SEF dan diberi kesempatan menjadi staf Event dan Program di Forum Selaturahmi Studi Ekonomi Islam. “Hal ini menjadi jalan yang membuka banyak peluang relasi dan peluang lain bagi diri saya,” katanya

Ia memilih kuliah di Universitas Gunadarma karena kampus ini berbasis IT, walau ia sendiri tidak mengambil jurusan yang berhubungan dengan dunia informasi. Alumnus Jurusan akuntansi angkatan 2010 ini mengaku merasa bersyukur karena begitu masuk keliah ia sudah dipercaya teman-temannya menjadi ketua kelas.

“Saat kuliah saya aktif dalam kegiatan kemahasiswaan dan mencari ilmu di luar dengan mengikuti seminar atau workshop di kampus-kampus sekitar Jakarta, bahkan sesekali keluar Jawa Barat,” katanya.

Dicari pekerjaan
Selain sibuk kuliah dan aktif mengikuti seminar atau workshop, sejak kuliah ia sudah mulai melakukan beberaoa usaha kecil-kecilan. Di antaranya ia menjual gorengan, map praktikum dan terakhir adalah menjual kaos distro mukasaya (Muda Kaya Saleh dan Pemberdaya). Saat itu ia sudah menyadari pentingnya membangun karakter wirausaha dan kemandirian.

Meski waktunya padat dengan berbagai kegiatan tersebut, namun kuliahnya berjalan lancar bahkan ia bisa lulus tepat waktu. Bagi Santoso, menjadi pemuda apalgi mahasiswa, harus menjadi solusi bagi permasalahan bangsa, sekecil apapun itu. “Kita harus memperbaiki diri, mengasah diri dan memperbanyak relasi,” ujarnya. “Hal inilah yang membuat saya ingin berorganisasi di kampus dan sejak awal kuliah saya aktif di LDK Fajrul Islam.”

Saat itu ia menjadi bagian syiar, yakni sebagai pengurus perpustakaan Islam di Masjid Kampus D lantai 2. Tahun kedua ia bergabung dengan KSEI Sharia Economic Forum (ESF) karena tertarik pada eknomis Islam. Dan dari SEF inilah ia mulai menekuni dunia perekonomian syariah dan lain-lainnya. “Bagi saya SEF adalah seorang ayah dan Faris adalah seorang ibu. Keduanya senantiasa menjadi penyemangat dan rumah kedua bagi saya,” ujarnya.

Ia merasa bersyukur bisa bergabung di SEF dan diberi kesempatan menjadi staf Event dan Program di Forum Silaturahmi Studi Ekonomis Islam. “Hal ini menjadi jalan yang membuka banyak peluang relasi dan peluang lain bagi diri saya,” katanya.

Terbukti setelah lulus, ia mendapat kesempatan magang di Masuarakat Ekonomi Syariah (MES). Setelah bergabung di Ikatan Ahli Ekonomis Islam Indonesia (IAEI) dan Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES). “Namun saya terlebih dahulu bekerja di IAEI dan 3 hari kemudian baru panggilan dari PKES datanya,” katanya.

Beberapa kesempatan bekerja yang datang padanya, membuatnya merasa bersyukur. :setelah lulus saya malah dicari pekerjaan bukan mencarinya,” ujarnya.

Di luar kampus, ia sendiri sempat menjadi pengurus komunitas pengusaha kampus, komunitas sosial bantu berjamaah dan sebagainya.

Sampai saat ini sudah hampir 2 tahun ia bekerja di IAEI. Di sini ia mendapat kepercayaan menjadi Manager Development Program. Posisi ini memberikan ruang padanya untuk merancan program sosialisasi Ekonomi Syariah ke kampus-kampus di Indonesia, memberikan program pelatihan workshop, ToT dan lain-lain.

Menjaga hubungan baik
Dalam bekerja, ia berusaha menjaga hubungan baik dengan komisariat IAEI di tiap-tiap kampus, industri keuangan syariah dan juga dengan para pengurus IAEI itu sendiri. Pengalaman rapat bersama Menteri, para petinggi kampus dan Direksi Industri Keuangan Syariah dan pejabat lainnya, menjadi pengalaman istimewa tersendiri baginya. “Karena tentunya hal ini tak mungkin bisa didapatkan semua orang,” katanya.

Dari pengalaman tersebut ia belajar bagaimana para tokoh ini berbicara, berpikir dan memberikan keputusan yang baik. “Serunya lagi program-program kerja sama antara IAEI dengan industri, regulator dan akademisi, dilakukan di luar kota. Sambil menyelam minum air, sambilbekerja ya bisa sekalian jalan-jalan,” katanya seraya tertawa.

Pengalaman tersebut tentunya merupakan sesuatu yang tak pernah terbayangkan olehnya sebelumnya. Dan semua itu ia dapatkan karena ia bergabung dengan organisasi kampus. “Jadi pengalaman berorganisasi sangat penting dalam mebina karier kita kelak. Dengan berorganisasi, masa muda kita jadi lebih terorganisir. Namun tentu saja pilih organisasi yang tepat karena tidak semua organisasi memberikan kemampuang softskill dan ilmu untuk membina karier. Kantor itu juga merupakan organisasi besar dan berjuang di organisasi yang bersar, kita harus tuntaskan dulu cari pengalaman di organisasi kampus,” paparnya.

Saat ini rekan-rekan di lingkungan kerjanya berasal dari berbagai perguruan tinggi seperti UIN Jakarta, Universitas Muhamadiyah Yogyakarta, UNJ dan lain-lain. Setelah sekian lama bergabung dalam organisasi ini, Santoso melihat, lulusan Gunadarma mempunyai daya saing yang baik secara umum.

Ia mengingatkan “Lulusan dikatakan siap ketika sudah punya bekal yang cukup untuk menghadapi dunia karier. Beberapa tantangan yang harus dihadapi, di antaranya konsenstrasi, bahasa, hardskill & softskill,” tambahnya.

Karena itu sebelum lulus, pastikan konsentrasi apa yang ingin diambil dan diperdalam. “Setelah itu tingkatkan kemampuan berbahasa, minimal Bahasa Inggris, hardskill & softskill untuk menunjang personality, juga keahlian lain yang menjadikan lulusan Gunadarma bukan hanya sekedar lulusan biasa. Dan sebelum lulus kuliah aga bisa fokus mengejarnya,” paparnya.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

NO COMMENTS