Tradisi Perayaan Kelulusan yang Sering Berlebihan

Tradisi Perayaan Kelulusan yang Sering Berlebihan

90
0
SHARE
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Arti merayakan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah memuliakan, memperingati, memestakan. Namun begitu ternyata banyak yang ketika merayakan sesuatu malah jauh maknanya dari kata memuliakan. Lihat saja contohnya yang rutin dilakukan para pelajar usai merayakan kelulusan Perayaan yang seperti menjadi  rutinitas yang seperti tak berujung itu, sering berlebihan. Akibatnya justru tidak mengundang rasa simpatik masyarakat. Bahkan banyak yang akhirnya berurusan dengan pihak berwajib karena begitu berlebihan, bahkan sampai menjurus kriminal.

Yang belum lama terjadi menjadi contohnya. Netizen kembali disuguhi dengan perilaku pelajar yang sama sekali tak terpuji. Usai melaksanakan Ujian Nasional, pelajar di Klaten Jawa Tengah merayakannya dengan melakukan konvoy yang akhirnya melakukan aksi tawuran. Entah dari mana asalnya tiba-tiba saja sekelompok pelajar dari sekolah lain secara membabibuta melakukan penyerangan kepada siswa di sekolah yang sedang duduk-duduk di depan sekolah mereka. Korban jiwa dan luka pun berjatuhan karena pada kejadian itu para pelajar yang menyerang menggunakan senjata tajam.

Selain itu di sosial media pun perilaku pelajar usai merayakan kelulusannya menjadi viral. Para pelajar tersebut dengan baju yang sudah dicorat-coret, berperilaku buruk. Mereka, para siswa dan siswi, tanpa sungkan dan tanpa malu merobek baju dan memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak diumbar.

Perayaan kelulusan siswa SMA yang berlebihan yang sampai berujung pada tindakan kriminal terjadi pula di Medan beberapa tahun yang lalu. Ketika tengah melakukan konvoy di jalanan yang membahayakan, mereka sempat di tegur polisi. Namun bukannya mendengar teguran tersebut, para pelajar tersebut malah balik melawan petugas. Kejadian ini bukan hanya diunggah di media sosial namun juga sempat diberitakan di beberapa stasiun televisi.

Aksi pelajar yang merayakan kelulusannya memang beragam cara. Ada yang melakukan corat-coret baju, sobek baju, bahkan ada yang corat-coret mobil. Dalam sebuah akun seorang ibu menulis, “Merayakan kelulusan bolehboleh saja, namun jangan berlebihan.” Sebenarnya, bagaimana seharusnya merayakan kelulusan itu? UG

Merayakan dengan Makan Bersama di Rumah Teman

Saya pribadi merasa prihatin dengan perilaku pelajar yang sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Mungkin mereka sudah tidak punya pikiran lagi, dan mungkin juga sudah tidak memikirkan apa yang akan terjadi jika mereka melakukan perayaan yang berlebihan tersebut. Ketika melihat aksi perayaan yang sampai memegang bagian tubuh, saya merasa sedih. Sangat disayangkan sekali karena tidak sewajarnya wanita berpegangan dengan pria dengan gaya yang seronok apalagi di muka umum. Apalagi aksi mereka ini terekam dan kini tersebar di media sosial.

Seharusnya mereka melihat orang orang yang mungkin kurang beruntung. Mereka bisa menyumbangkan seragam sekolah mereka untuk anak-anak yang kurang mampu dari pada dicorat-coret begitu.

Mungkin saja pihak sekolah sudah melarang kegiatan tersebut. Namun bila aksi ini dilakukan di luar sekolah agak sulit juga untuk mendeteteksi. Apalagi kalau sudah di luar sekolah dan jam sekolah, bukan menjadi tanggung jawab sekolah lagi.

Sayangnya perilaku buruk ini terus saja terjadi. Mungkin juga karena sekarang sudah ada media sosial dan mereka pun sebelumnya melihat perilaku seperti itu dari kakak kelasnya. Jadi wajar saja kalau setiap tahun semakin tidak terkendalikan karena boleh jadi si pelajar ingin tampil lebih “hebat” dari kakakkakaknya terdahulu. Biasanya memang ada yang memprovokasi melakukan hal tersebut. Para pelajar ikut-ikutan dalam melakukan aksi berlebihan itu tanpa memikirkan efek yang ditimbulkan, baik bagi dirinya sendiri maupun lingkungannya.

Memang agak sulit untuk melarang mereka karena dilakukan di luar sekolah dan rumah. Mungkin yang perlu dilakukan adalah memberi mereka kesadaran bahwa merayakan tak harus berlebihan karena menjurus kepada hal yang tak bermanfaat. Selain itu, tanamkan kepada para siswa, menatap masa depan lebih penting untuk dipikirkan bukan hanya sekadar merayakan kelulusan.

Saya sendiri saat merayakan kelulusan dengan teman teman sekelas, dengan makan- makan di rumah salah satu teman. Bagi kami, berkunjung dan makan bersama merupakan salah satu bentuk syukur kita. Kami pun bisa menikmati santapan yang enak sambil bersilataruhmi.

UG

Merayakan dengan Sujud Syukur

Melihat para pelajar merayakan kelulusan dengan tawuran atau menyerang sekolah lain sehingga ada korban jiwa, seperti yang jadi viral di medsos, saya merasa miris. Ini tragedi. Tidak seharusnya mereka melakukan hal yang sangat merugikan diri sendiri juga orang lain. Untuk itu harus ada sangsi lebih tegas lagi dari sekolah. Misalnya usai kejadian maka Surat Keterangan lulus (SKL) mereka tidak dibuatkan dan ijasah mereka ditahan.

Begitu juga dengan aksi corat coret dan perilaku yang melanggar norma. Apalagi mereka melakukannya di muka umum. Itu perbuatan yang tidak pantas ditiru. Sepertinya perilaku baik yang mereka pelajari di sekolah ternyata hanya formalitas saja. Sama sekali tidak diimplementasikan.

Seharusnya mereka bersyukur pada Tuhan karena harapan dalam mengikuti pendidikan agar bisa lulus telah tercapai. Pihak sekolah pun harus bisa mengendalikan para siswa agar tidak melakukan tindakan yang berlebihan seperti itu. Orang tua juga harus lebih aktif memberi kesadaran kepada anakanaknya sehingga mereka tahu kerugian yang akan didapat bila melakukan halhal tersebut.

Pengalaman saya sendiri, sebelum melaksanakan UN, semua siswa dikumpulkan untuk berdoa. Para siswa kemudian mengumpulkan dana untuk membantu pembanguanan masjid yang letaknya tidak jauh dari sekolah.

Saat saya menerima amplop putih yang bertuliskan kata LULUS, saya sendiri melakukan sujud syukur. Saya mengabarkan kepada orang tua dan saya terharu karena orang tua memberikan nasihat pada saya. Karena itu saya tidak setuju dengan berbagai bentuk perayaan yang tak bermanfaat seperti corat-coret, sobek sobek baju. Karena baju itu dari orang tua, hasil cucuran keringat orang tua. Kalau mereka merasa tak butuh bisa disumbangkan kok untuk orang lain.

UG

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

NO COMMENTS