Menyebar Virus Inklusif

Menyebar Virus Inklusif

94
0
SHARE
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Peluncuran rintisan unit layanan Disabilitas yang terlaksana pada kampus D Depok dilanjutkan dengan kegiatan lokakarya pada siang harinya di tempat yang sama.

Lokakarya yang berlangsung hingga sore hari itu menghadirkan pembicara tunggal, Ro’fah, S.Ag., BSW., MA., PhD yang membawa materi berjudul “Best Practice penyelenggaraan pendidikan tinggi untuk penyandang disabilitasPeran dan Tugas unit Layanan Disabilitas”.

Ro’fah, S.Ag., BSW., MA., PhD adalah seorang dosen Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, yang sudah sejak lama bersentuhan dengan mahasiswa difabel. Kehadiranya dalam rencana Universitas Gunadarma membentuk Unit Layanan Disabilitas itu, tentu sangat dinanti oleh para dosen Universitas Gunadarma yang hadir pada Lokakarya tersebut, agar dapat bisa mendapatkan pengalamanya.

Saya sangat senang dapat menyebar virus inklusif di Universitas Gunadarma. Setiap kali saya diminta untuk sharing tentang kegiatan yang berhubungan dengan layanan difabel, saya selalu bilang sebgai penyebaran virus inklusif. Mudah-mudahan penyebaran virus ini dapat menyebar untuk diwujudkan beberapa waktu kedepan,” tuturnya untuk mengawali paparanya.

Sebelum menyampaikan materi tentang Lokakarya tersebut, ia pun membagi pengalamanya sebagai Ketua Pusat Studi dan Layanan Difabel di UIN Sunan kalijaga. Disaat proposal kami diterima oleh pimpinan kami hanya diberikan ruang kosong tanpa dana. Ini kami betul-betul lakukan dengan modal nekad, ujarnya bercerita.

Setelah berjalan beberapa tahun mungkin juga karena melihat apa yang telah kami lakukan, barulah PSLD masuk dalam struktural,” tambah Ro’fah, S.Ag., BSW., MA., PhD yang menyelesaikan S3-nya tahun 2011 untuk bidang studi social work pada McGill University, Kanada.

Menurut Ro ‘fah, saat ini terdapat 70 Mahasiswa Difabel yang ada diberbagai fakultas. Karena diawal pendirian PSLD di UIN Sunan Kalijaga berdasarkan Komitmen semata, maka menurut Ro ‘fah, mereka sejak awal bergantung Kepada para Relawan. “Kami merekut mahasiswa untuk menjadi tulang punggung kami.” katanya.

Namun Begitu, urusan relawan ini pun menurut wanita kelahiran Banyumas 24 November 1972 ini, menjadi masalah tersendiri “Kami cukup kewalahan soal manajemen relawan ini”. Kami punya relawan sangat banyak karena proses recruitment selalu on going. “Untuk tahun 2013 saja kami sampai mendidik hingga 200 relawan, Namun sering berjalan waktu, biasanya secara alamiah hanya tinggal 50 relawan saja.” ujarnya.  

Ro ‘fah tentu saja menyambut baik rencana Universitas Gunadarma pun berupaya untuk dapat mewujudkan kesamaan Hak penyandang disabilitas melalui rintisan Unit Layanan Disabilitas tersebut.

16UGNews   Vol 14. No. 17-20 Oktober 2017

 

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

NO COMMENTS